Siapa yang tidak mengenal produk china? Beraneka ragam produk china tersebar dimana – mana di seluruh penjuru dunia. Kekhawatiran tersebut memang beralasan melihat hampir dapat dikatakan produk-produk berlabel made in China medominasi pasar dunia mulai dari sekedar peniti, sepatu sampai perangkat elektronika canggih. Di saat negara kita sedang berjuang mati-matian untuk meningkatkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, di lain pihak China justru mengalami tekanan dari dunia agar mau mengambangkan nilai mata uangnya yang dinilai dipatok terlalu rendah. Pematokan nilai yuan yang sudah dilakukan semenjak tahun 1994 ini diprotes karena dianggap sebagai penyebab utama miringnya harga produk-produk Cina di pasaran dunia (Sarnianto, 2004). Faktor nilai tukar mata uang sudah pasti bukanlah satu-satunya penyebab produk-produk negara dengan populasi terbesar di dunia ini mampu berjaya menguasai pasar dunia.
Secara umum, beberapa alasannya adalah sebagai berikut :
1. Biaya tenaga kerja ( SDM ) yang murah ( sumber daya manusia melimpah ) dan produktivitas buruhnya tinggi
2. Pajak yang tidak terlalu besar ( atau bahkan tidak membayar pajak karena adanya black market ).
3. Sebagian besar komponen produknya merupakan komponen bekas ( hasil daur ulang ).
4. Jumlah produksinya yang tinggi (produsen skala besar) dan faktor pasar dalam negerinya yang melimpah.
5. Mempunyai jaringan perdagangan yang kuat dan terpadu di seluruh dunia. Sehingga banyak produk china beredar di pasaran
6. REVERSE ENGINEERING. Cost / biaya terbesar pada pembuatan produk, adalah pada tahap “Pengembangan/Research and Development”. Selain memakan biaya besar, juga memakan waktu yang lama. Para pengusaha Cina melihat hal ini dapat dihilangkan dengan menggunakan sistem “Reverse Engineering”.
Reverse Engineering, merupakan suatu kegiatan membuat kembali produk yang sudah ada dengan menggunakan part, material, serta cara pembuatan yang sama seperti produk aslinya. Dengan kata lain meniru.
Reverse Engineering ada dua (2) jenis, yaitu :
• Meniru material, artinya meniru bentuk yang sesuai dengan aslinya
• Meniru material, artinya meniru bentuk tetapi juga melakukan sedikit modifikasi
Dalam modifikasi, peranan seorang designer dengan software CAD-nya berperan sangat fital. Software CAD akan dapat membantu perancang untuk mengubah bentuk dasar dari rancangan yang akan ditiru. Harus kita ingat sebenarnya kegiatan meniru bukanlah sesuatu yang memalukan. Itu merupakan sebuah proses belajar tanpa henti tujuannya adalah untuk menciptakan/menghasilkan sebuah produk yang memiiki harga semurah mungkin dan memiliki fungsi banyak mungkin (satu jenis produk multifungsi tanpa meninggalkan fungsi utamanya. Contoh : mobile phone ada tv, radio, kamera foto dan video padahal fungsi utamanya hanya untuk telepon dan sms).
7. “PALUGADA” : setiap apa saja barang yang diminta selalu ada. Hampir semua jenis produk ada, plus variasi harganya. Kualitas produk tergantung uang. Apabila uang besar maka kualitas produk china yang dihasilkan juga akan bagus. Tetapi apabila uang rendah, maka kualitas yang dihasilkan juga seadanya.
8. memaksimalkan peran UKM (Usaha Kecil Menengah) dan bisnis swasta daerah yang disebut sebagai Township and Village Enterprises (TVEs) dalam menopang kekuatan ekspornya.
Dilihat dari sisi perdagangan secara angka di atas kertas memang masih terlihat bahwa ekspor kita masih surplus dibanding Cina. Menurut data yang diperoleh dari Dubes RI di China, bahwa tepatnya sampai dengan 3 Agustus 2004 dilihat dari sudut pandang perdagangan luar negeri China, saat ini Indonesia merupakan negara tujuan ekspor urutan ke-17 dengan nilai 2,66 miliar dollar AS atau 1,03 persen dari total ekspor China yang mencapai nilai 258,21 miliar dollar AS. Indonesia juga menjadi negara asal impor ke-17 bagi China dengan nilai ekspor 3,44 miliar dollar AS (Osa, 2004).
Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan tampak bahwa barang-barang produksi Cina terlihat di mana-mana. Kita tidak menutup mata bahwa banyak produk dari negeri panda tersebut yang masuk secara ilegal ke Indonesia sehingga tidak ikut tercatat secara resmi dalam laporan tersebut. Namun penjelasan dari Ketua Umum Kadin Indonesia Komite Cina, Sharif Cicip Sutardjo sangat masuk akal. Sebagaimana dikutip dari wawancara dengan Sinar Harapan dijelaskan bahwa ekspor Indonesia ke Cina memang besar namun sebagian besar merupakan bahan mentah dengan jumlah item yang sangat sedikit, kurang lebih hanya 15 item seperti migas, CPO, karet, kayu, dan lain-lain. Sedangkan dari Cina kita mengimpor ratusan item, mulai dari ampas, hasil pertanian, peralatan sampai ke motor dan mobil. Sebagian besar perusahaan yang menghasilkan produk-produk itu semua di Cina hanyalah industri swasta, UKM atau TVEs (www.sinarharapan.co.id/ ekonomi/industri/2003/1224/ind2.html).
Kenyataan ini sungguh berkebalikan dengan keadaan UKM kita yang kurang diberdayakan padahal memiliki potensi yang sangat besar. Jumlah UKM mencakup 99 % dari total seluruh industri di Indonesia dan menyerap sekitar 56 % dari jumlah total seluruh pekerja Indonesia (Rochman, 2003). Untuk itu sangat perlu kita lihat upaya apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah Cina untuk memajukan industri swasta khusunya UKM, mengingat UKM kita juga sebenarnya punya kemampuan. Hal ini terbukti pada saat krisis moneter justru sektor UKM yang mampu bertahan.
9. infrastuktur mendukung
10. industri komponennya mendukung.
“Namun konsumen harus hati-hati karena produk cina itu belum tentu bagus, karena pada produknya ada faktor efisiensi yang mempengaruhi usia produk dan daya tahan terutama barang elektronik. Ada baiknya konsumen cermat memperhatikan produk China, layanan after sales service juga layak menjadi pertimbangan. Berhati-hatilah juga dengan produk yang dikonsumsi manusia seperti makanan, minuman dan obat-obatan.
SDM Terbaik Sebagai Pengusaha
Dalam hal SDM untuk dunia usaha Cina juga tidak tanggung-tanggung dalam mengarahkan orang-orang terbaiknya untuk menjadi pengusaha yang handal. Sejak tahun 1990-an, Cina telah mengirimkan ribuan tenaga mudanya yang terbaik untuk belajar ke beberapa universitas terbaik di Amerika Serikat, seperti Harvard, Stanford, dan MIT. Di Harvard saja, Cina telah mengirimkan ribuan mahasiswanya untuk mempelajari sistem ekonomi terbuka dan kebijakan pemerintahan barat, walaupun Cina masih menerapkan sistim ekonomi yang relatif tertutup. Sebagai hasilnya, Cina saat ini telah memiliki jaringan perdagangan yang sangat mantap dengan Amerika, bahkan memperoleh status sebagai The Most Prefered Trading Partner (Kardono, 2001).
Pemerintah Cina juga membujuk para overseas Chinese scholars and professionals, terutama yang sedang dan pernah bekerja di pusat-pusat riset dan MNCs di bidang teknologi di seluruh penjuru dunia untuk mau pulang kampung dan membuka perusahaan baru di Cina. Mantan-mantan tenaga ahli dari Silicon Valley dan IBM ini misalnya, diharapkan nantinya juga akan dapat mempermudah pembukaan jaringan usaha dengan MNCs ex-employer lainnya yang tersebar di seluruh dunia (www.mail-archive.com/bhtv @paume.itb.ac.id/msg00042.html). Tentu saja bujukan itu dilakukan dengan iming-iming kemudahan dan fasilitas untuk memulai usaha, seperti insentif pajak, kemudahan dalam perizinan, dan suntikan modal.
Indonesia Harus Bisa Mengambil Pelajaran dari Cina
Kita sebaiknya bisa belajar dari kesuksesan Cina mengembangkan dunia usaha dan industrinya. Hal ini jauh lebih baik ketimbang hanya menggerutu melihat produk-produk Cina yang membanjiri pasar dalam negeri. Merajalelanya produk-produk Cina dengan harga yang murah dan berkualitas harus dilihat tidak hanya sebagai ancaman, namun juga sebagai pemicu agar Indonesia bisa bergerak ke arah perbaikan. Pada kesempatan ini saya akan mencoba merumuskan beberapa masukan berupa langkah yang sebaiknya kita tempuh berkaitan dengan apa yang telah dilakukan dan diraih oleh China :
1. Pertama, yaitu kita harus mencoba mengkaji kebijakan-kebijakan Cina dalam perekonomian khususnya dalam memajukan dunia usahanya. Setelah itu dirumuskan manakah yang bisa dan tepat untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini mengingat keadaan , latar belakang, dan budaya Cina yang tidak sama dengan Indonesia.
2. Langkah kedua yang bisa ditempuh adalah dengan mempererat hubungan kerja sama dengan Cina, tidak saja dalam ekonomi namun juga pada bidang-bidang lainnya yang dianggap penting. Dalam bidang ekonomi dan keamanan misalnya dengan membuat nota kesepahaman tentang kerjasama dalam penanganan penyelundupan di kedua negara. Bentuk kerjasama yang lain misalnya adalah dengan melakukan sinergi industri antara kedua negara. Seperti yang sudah berjalan pada industri lilin antara Indonesia dan Cina, dimana terdapat kesepakatn tidak tertulis dalam pembagian fokus industri, dengan pembagian industri hulu dan menegah yang ditangani Indonesia sedangkan hilir dipegang oleh Cina.
3. Ketiga, adalah dengan menciptakan budaya wirausaha di Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan meniru langkah pemerintah Cina dengan kebijakan-kebijakannya dalam merangsang munculnya para pengusaha-pengusaha baru. Akan tetapi apabila dilihat lebih cermat, sebenarnya yang menjadi masalah utama di Indonesia terletak pada paradigma berpikir masyarakatnya. Di Indonesia hampir tidak ada kita kita lihat keinginan yang besar dari kalangan terdidik untuk menjadi pengusaha. Penyebabnya bisa jadi karena malas dan takut mengambil resiko untuk berjuang dari nol apabila menjadi pengusaha. Masyarakat kita juga pada umumnya menaruh simpati yang lebih besar pada profesi-profesi yang secara praktis terlihat ekslusif, seperti dokter, akuntan, dan pengacara dibanding dengan wirausaha. Keadaan ini lebih diperburuk dengan sistem pendidikan kita yang cenderung mengabaikan pelajaran tentang kewirausahaan dan kepemimpinan. Hal ini sangat berkebalikan dengan budaya wirausaha yang sangat kental dari penduduk Cina.
4. Langkah keempat adalah dengan memaksimalkan peran akademisi yaitu peneliti untuk menunjang dunia usaha. Selama ini diantara banyak kendala dunia usaha kita terutama UKM, yang paling besar adalah dari sisi teknologi dan metode yang tidak efisien dan jauh tertinggal dari pesaingnya di luar negeri. Untuk itu kiranya para peneliti mau turun dari menara gading untuk mau membantu penelitian industri-industri di Indonesia. Sudah saatnya penelitian yang dilakukan bisa lebih membumi sehingga dapat juga dinikmati oleh industri-industri kecil dan menengah.
Pada dasarnya ACFTA memiliki sisi positif dan sisi negatifnya. Namun kesiapan pemerintah misalnya dalam persiapan infrastruktur dan peningkatan daya saing industri mutlak diperlukan. Jangan sampai hal ini akan mematikan pasar dalam negeri karena konsumen lebih memilih produk China yang harganya jauh lebih murah. ACFTA ini juga akan berimbas terhadap ritel di Indonesia. Produk China akan membanjiri pasar. Hal ini karena adanya permintaan yang tinggi karena harganya yang murah dibandingkan produk lokal. Produk lokal akan kesulitan untuk bersaing secara harga, tapi secara kualitas produk Indonesia tetap lebih unggul. Oleh karena itu dalam jangka panjang ketika konsumen lebih peduli lagi terhadap kualitas peritel akan mulai lagi melirik barang lokal. Kebijakan- kebijakan non tarif lain yang dapat dilakukan pemerintah untuk melindungi produsen dan konsumen lokal di Indonesia yaitu :
• Melakukan pengawasan terhadap produk ilegal masuk ke Indonesia seperti produk makanandan minuman serta beras dan gula karena tidak tercantum dalam perjanjian ACFTA tersebut.
• Menerapkan SNI (Standar Nasional Indonesia) terhadap produk China yang masuk keIndonesia sera menyelaraskan standar produk Indonesia sesuai dengan negara tujuan ekspor.Hal ini akan memungkinkan bagi UKM untuk memasarkan produknya ke China dengan syarat UKM tersebut dapat menyesuaikan dengan standar negara tujuan ekspor.
• Instrument label halal dan petunjuk penggunaan dalam bahasa Indonesia. Indonesia denganmayoritas penduduk muslim hendaknya menjadi pertimbangan dalam pencantuman label haladi produk China dengan pengawasan dari MUI. Selain itu pertimbangan aturan pencantumancara penggunaan produk berbahasa Indonesia wajib diterapkan. Jadi, mungkin saja suatu saatnanti produk China dengan label halal akan banyak kita temui di ritel-ritel bersaing dengan produk lokal.Beberapa sektor industri yang akan terpengaruh karena pengaruh ACFTA adalah :
Jauh sebelum diberlakukannya ACFTA produk tekstil China sudah membanjiri pasar. Hal inisangat menakutkan bagi pengusaha tekstil Indonesia karena terjadi persaingan harga. Produk tekstil China dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan tekstil Indonesiawalaupun dari segi kualitas produk Indonesia lebih unggul. Namun bagi konsumen denganpendapatan yang rendah, kualitas tidak lagi menjadi acuan dalam pertimbangan pembeliansuatu produk. Konsumen akan lebih memperhatikan tingkat harga yang sesuai denganpendapatan mereka. Contohnya saja: baru-baru ini China memproduksi batik yang harganya lebih murah dari batik Indonesia. Bagi peritel kondisi ini memungkinkan mereka akanmenyikapi dengan ikut menyediakan produk buatan China yang sesuai dengan permintaankonsumennya. Namun hal ini tidak mutlak bagi semua peritel karena bagi peritel yang lebih mengutamakan target pasar yang aware terhadap kualitas akan tetap menyediakan barangprodusen lokal.
- Industri barang elektronik dan ITA
Adanya ACFTA tidak begitu significant berimbas bagi sektor IT di Indonesia, karena jauhsebelum perjanjian ini produk China sudah banyak beredar di masyarakat. Dengan adanyaproduk IT dari China dengan harga yang murah akan memancing produsen lokal untuk menciptakan produk seperti itu namun dengan kualitas yang lebih baik. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi konsumen karena dapat memiliki banyak pilihan produk. Jadi jangan heran kalau nantinya kita melihat semakin banyaknya produk IT China di rak pengecer ITdengan harga miring.
Hal yang juga patut di waspadai adalah produk rumah tangga yang akan menjamur dipasarkan di Indonesia terkait adanya ACFTA tersebut. Mungkin untuk beberapa jangka waktu ke depan tidak asing bagi kita untuk menemukan barang-barang rumah tangga daritangan peritel. Hal ini tentu saja disebabkan adanya permintaan terhadap barang itu sendiri.Ibu-ibu rumah tangga lebih cendrung untukmemilih barang dengan kualitas yang lebih murahdan terjangkau.namun bagi peritel yang tetap ingin berjualan produk lokal sebaiknya jugamelakukan promosi yang gencar.
- Industri makanan dan minuman
Terkait dengan adanya ACFTA ini komoditas yang ikut membanjiri pasar ritel di Indonesiaadalah produk makanan dan minuman yang banyak didatangkan dari China. Ritel yangmungkin terpengaruh adalah buah-buahan dimana di tangan pengecer akan lebih banyak ditemui buah yang berasal dari China. Sehingga berpotensi untukmematikan usaha lokal jikatidakmampu bersaing di pasaran. Namun produk roti dan makanan kecil tidak termasuk dalam perjanjian itu. Yang patut diperhatikan adalah masalah produk ilegal yang masuk tanpaizin.Beberapa kalangan juga menilai ACFTA juga berdampak positif terhadap bisnis di Indonesia khususnya ritel. Walaupun barang-barang China akan melimpah di pasaran namun hal ini akan memaksa produsen lokal untuk melakukan inovasi terhadap produknya sehingga mampu bersaing. Inovasi ini dapat dengan menciptakan produk baru atau dengan mencari jalan lain yang dapat menekan biaya proses produksi sehingga dari segi harga juga dapat bersaing. Selain itu adanya kesempatan bagi produsen lokal unuk mengekspor produknya keluar negeri (China). Sehingga tidak hanya ritel di Indonesia yang kebanjiran produk luar namun bisa saja produk Indonesia akan membanjiri China. Hal ini dapat terjadi jika adanya peningkatan (standarisasi produk) sesuai Negara tujuan.
Penutup
Demikianlah pembahasan yang berkaitan dengan iklim usaha di China yang merupakan salah satu unsur utama pendorong perekonomian China hingga bisa menjelma menjadi raksasa perekonomian dunia. Walaupun tidak semuanya pas diterapkan di Indonesia, namun setidaknya beberapa langkah-langkah Cina yang telah terbukti berhasil tidak ada salahnya untuk diikuti dan dipraktekkan di Indonesia.
Seluruh komponen mulai dari pemerintah, akademisi, peneliti, pengusaha, dan warga masyarakat umum harus ikut serta memikirkan dan bekerja keras mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dialami negara kita tercinta ini. Setiap pihak hendaknya berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimilikinya masing-masing.
Created By :
SAYYIDATUS SA’DIYAH
2011245004