Minggu, 04 Maret 2012

Build A Life “ Kampung 99 Pepohonan “


Ecotourism atau yang juga disebut ekowisata merupakan salah satu kegiatan wisata yang mulai populer di era globalsasi ini. Banyak sekali manfaat dan potensi dari alam yang menurut kita merupakan kegiatan atau sesuatu hal yang sudah biasa kita kerjakan ( suatu rutinitas harian ) namun bagi orang lain yang dengan latar belakang lingkungan yang berbeda hal tersebut merupakan sesuatu hal yang unik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Back to nature ... istilah yang booming di saat dunia mulai mengalami pemanasan global. Berbagai kegiatan seperti go green mulai digalakakkan. Selain disebabkan oleh semakin padatnya rutinitas di ibukota, banyaknya kendaraan bermotor juga menyebabkan  meningkatnya tingkat polusi udara. Hal inilah yang memotivasi bapak Eddy Djamaludin Suaidy tergerak untuk meninggalkan istananya yang mewah yang terletak di daerah Cilandak jakarta Selatan untuk pindah ke daerah pinggiran sungai yang merupakan saluran irigasi buatan Belanda yang menjadi tempat pembuangan sampah bagi masyarakat sekitar. Suatu hal yang mungkin tak pernah terlintas dalam benak kita untuk memilih tinggal di suatu daerah terpencil, jauh dari keramaian hiruk pikuk padatnya rutinitas ibukota. Pada waktu itu daerah meruyung, Limo Depok merupakan daerah yang kurang nyaman untuk ditinggali karena pengaruh oleh musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan udara disana sangat panas sekali. Apalagi kalau musim hujan, tingkat terjadinya bencana tanah longsor sangat tinggi. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangat bapak Edi Jamaludin atau yang sering orang-orang sebut Abi untuk mendirikan rumah dan tinggal disana pada tahun 2004. Berawal dengan niat hidup sehat, Abi mulai mendirikan rumahnya yang terbuat dari bahan dasar kayu diatas tanah seluas 50.000 m2. Awalnya Abi hanya menempati rumah tersebut dengan istri dan ketiga orang anaknya. Namun lambat laun sanak keluarga yang lain juga ikut tinggal disana hingga berjumlah sekitar 20 kepala keluarga yang menetap. Dengan semangat hidup sehat yang tinggi, keluarga Abi setiap harinya menanam 10 buah pohon. Dimana awalnya Abi menanam pohon Ara atau yang sering disebut pohon kehidupan. Dengan berlandaskan semangat gotong royong, kasih sayang dan kekeluargaan yang membuat keluarga besar Abi melakukan kegiatan tersebut yaitu membangun kehidupan. Hal ini dipercaya karena dengan membangun kehidupan, maka akan bermunculan juga segala aspek kehidupan. Pohon itu ibarat kebaikan. Semakin banyak kita menanam pohon, berarti semakin banyak kebaikan yang kita terapkan. Berawal dari kata “ bisnis “ yang berarti busy atau sibuk. Dimana berarti bahwa marilah kita menyibukkan diri kita untuk membangun kehidupan untuk mencapai pola hidup sehat. Seiring berjalannya waktu berbagai macam tanaman mulai tumbuh subur disini. Dengan landasan hidup sehat inilah muncul aspek ekonomi. Banyak masyarakat sekitar yang berkunjung ke rumah Abi karena terpesona dengan suasananya yang rindang,nyaman,tentram. Tahun 2005 merupakan awal berdirinya Kampung 99 pepohonan. Sistem pemasaran yang simpel hanya dengan promosi dari mulut ke mulut merupakan marketing yang ampuh yang menjadikan kampung 99 ini mulai dikenal oleh kalangan luas. Berawal hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, Kampung 99 ini mulai beralih menjadi suatu potensi yang mendatangkan aspek ekonomi. Hal ini sangat menarik sekali, selain 6 kebutuhan keluarga akan pangan, sandang, papan, kesehatan pendidikan dan energi telah terpenuhi ternyata peluang usaha juga memberikan dampak yang baik untuk perekonomian keluarga. Tanpa dikenakan biaya tiket masuk, kita bisa menikmati keindahan alam yang benar-benar asri. Kita dapat berpartisipasi dengan ikut menyumbang 1 buah pohon untuk 1 jiwa sebagai wujud moril kita terhadap lingkungan disana. Adakah terlintas di benak kita, mengapa dinamakan kampung 99 pepohonan ? Kampung merupakan istilah yang sangat familiar untuk menciptakan suasana keakraban. 9 merupakan angka tertinggi yang diibaratkan sebagai wujud pengorbanan atau tindakan yang dilakukan yang terbaik untuk alam. Kata pepohonan digunakan karena di tempat tersebut memang banyak sekali berbagai macam pepohonan yang tumbuh subur disana. Kampung 99 pepohonan merupakan suatu tempat tujuan wisata yang terletak di Jl. KH. Muhasan II, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Depok 16515 (seberang Mesjid Kubah Mas Dian Al Mahri) yang memiliki potensi wisata yang sangat menarik, unik dan berkesan. Selain kita dapat menikmati suasana yang asri, berbagai aktifitas juga dapat kita lakukan di sana seperti : menanam padi, menanam pohon, menangkap ikan, memeras susu sapi, beternak, mencukur bulu domba dan lain sebagainya. Berbagai kegiatan outbond dan games interaktif juga  ada disini, seperti fliying fox, dayung sampan dan lain sebagainya. Di areal tersebut hidup antara lain binatang rusa jenis timorensis, kambing etawa, sapi, kerbau, tupai, burung, dan ayam mutiara. Beragam macam pohon pun ada, seperti pohon maja, trembesi, jati putih, rengas, kemang, dan karet.
Selain itu, ada juga pengobatan alternatif dengan sengat lebah. Di sini juga dijual yoghurt buah (sukun, kiwi, orange, strawberry, anggur), carcade (teh arab), susu kambing jahe. Menu makanan dan minuman yang dijual sifatnya alami dan hasil kebun sendiri.
Untuk biaya paket per `event` dengan empat kegiatan Rp100 ribu untuk anak-anak, dan Rp150 per orang dewasa. “Kalau satu anak didampingi dengan satu orang pemandu dikenakan biaya Rp135 ribu,” kata Santi.

 Setelah anda lelah melakukan aktifitas disini, jangan lupa untuk menikmati olahan masakan khas dengan bahan dasar daging rusa, seperti : bakso rusa dan sup rusa. Untuk memasak mereka juga masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Benar-benar tindakan yang alami yang membantu penghematan sumber energi biogas yang sekarang ini mulai langka. Untuk oleh-olehnya jangan lupa untuk membeli sirup belimbing yang merupakan olahan khas dari masyarakat sekitar. Ada juga produk terbaru dari kampung 99 ini, yaitu makanan hasil olahan dari ikan, udang atau cumi-cumi yang bisa anda dapatkan dengan harga hanya Rp 15.000 untuk lumpia ikan, scalop, nugget dan Rp 25.000 untuk tempura udang. Menarik sekali bukan, selain melakukan kegiatan tanam menanam, kita juga bisa beternak sendiri memeras susu sapi, memandikan atau bahkan ikut mencukur bulu domba. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia ini memang kaya akan berbagi sumber daya alamnya. Seperti ada istilah yang pernah kita dengar bahwa negeri yang terkaya adalah negeri yang mampu mengolah ternaknya sendiri.  So,. Let’s see the song, not the singer.

1 komentar:

  1. Nilai: 85

    Bagus, hanya perlu dilengkapi bagaimana akses menuju keobjek, promotion kits, kerjasama, pelayanan kepada pengunjung.

    BalasHapus