Ecotourism ??? Sebuah kata yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Ecotourism atau ekowisata merupakan salah satu kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor / usaha ekonomi yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya – upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Aktivitas yang padat, kesibukan serta rutinitas harian yang menjenuhkan membuat kita semua membutuhkan refreshing. Namun, setiap individu memiliki bentuk kesenangan yang berbeda. Maka seiring berjalannya waktu, dinamika dan kesenangan setiap orang juga ikut berubah setiap saat. Keaslian serta keunikan alam dan budaya pun mulai diperhatikan. Bagi sebagian orang mungkin tak hanya kita bersenang – senang atau refreshing, tetapi juga memuat unsur pendidikan. Salah satu alternatif pariwisata yang terletak di pesisir Jakarta Utara adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Suaka Margasatwa Muara Angke adalah adalah salah satu kawasan konservasi yang ditujukan sebagai daerah perlindungan satwa liar dan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, dikembangkan untuk tujuan penelitian, pendidikan dan wisata. Jadi, ini merupakan jenis wisata minat khusus yang tidak semua wisatawan menginginkannya. Selain itu juga jumlah wisatawan yang berkunjung terbatas, yaitu maksimal 50 orang setiap harinya. Dahulunya tempat wisata ini merupakan Cagar Alam Muara Angke yang kemudian dirubah menjadi Suaka Margasatwa Muara Angke pada tanggal 26 November 1998 dengan keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 755/Kpts-II/1998.
Suaka Margasatwa yang memiliki luas 25,02 Ha ini terletak di dekat Perumahan Pantai Indah Kapuk ( PIK ). Sekitar 6 km dari Taman Wisata Alam ( TWA ) Muara angke. Untuk sampai ke kawasan ini paling mudah lewat tol dalam kota Jakarta, keluar tol di Pluit. Setelah itu ikuti jalan melintasi Mega Mall Pluit, masuk Jl. Muara karang lalu belok kiri masuk ke Pantai Indah kapuk. Setelah menyebrangi jembatan sekitar 50 m dari gerbang, di sebelah kanan adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Mobil / motor dapat diparkir di komplek ruko Mediterania Niaga, bersebrangan dengan pintu masuk kawasan ini. Sebelum kita mengunjungi kawasan wisata ini, wajib bagi kita untuk mengurus perijinan SIMAKSI ( Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi ) di Kementrian Kehutanan yang terletak di Jalan Salemba Raya no 9, Jakarta Pusat. Untuk mendapatkan SIMAKSI kita harus melengkapi persyaratan, diantaranya : surat rekomendasi dari instansi yang terkait, proposal kegiatan, kartu tanda pengenal bagi seluruh wisatawan yang akan berkunjung, serta sanggup untuk mentaati peraturan yang ditetapkan bagi kelestarian kawasan konservasi ini. Setelah melakukan kunjungan juga kita wajib memberikan laporan tertulis atas hasil kunjungan kita disana dengan waktu pengumpulan laporan maksimal 15 hari setelah kunjungan. Setelah semua persyaratan terpenuhi, SIMAKSI dapat dikeluarkan dan di tanda tangani oleh Kepala BKSDA ( Balai Konservasi Sumber Daya Alam ), Bapak Ir. Ahmad Saerozi.
Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan salah satu benteng terakhir di kawasan utara Jakarta, terdiri dari vegetasi mangrove yang merupakan tempat mencari makan burung – burung air dari sekitar Jakarta terutama dari Kepulauan Seribu dan Pulau Rambut. Namun kini kawasan konservasi ini mulai terdesak dengan pembangunan perumahan – perumahan di sekitarnya. Sampah – sampah banyak sekali hanyut dan tergenang di sekitar sungai angke, sehingga sering dilakukan pembersihan sampah di sungai secara berkala setiap 2 minggu sekali. Komponen utama di kawasan ini yaitu vegetasi mangrove. Adapun jenis tumbuhan yang ada antara lain : Api – api ( Avicenia marina ), Bakau bandul ( Rhyzopora mucronata ), Pidada ( Soneralia caseolaris ), Buta – buta ( elphelaria agallocha ) dan Nipah ( Nypa fruticans ). Sedangkan jenis satwa yang ada di kawasan ini diantaranya : 74 jenis burung air , seperti bubut jawa, kuntul, burung madu dll. Selain itu juga terdapat biawak ( Varanus Salvator ), ular sanca ( Phyton reticulatus ), ular cobra ( Naja sputatrix ) dan ada juga jenis kera ekor panjang ( Macaca fascicularis ).
Sebagai kawasan yang merupakan vegetasi mangrove dengan berbagai jenisnya, tentunya apakah kita tahu manfaat dari mangrove itu sendiri ??? selain sebagai penahan abrasi di daerah pesisir pantai, tanaman mangrove dapat juga diolah sebagai bahan makanan, minuman, kosmetik, obat dan juga sabun. Seperti contoh yaitu tanaman api – api. Dari kulit batangnya dimanfaatkan sebagai obat penyakit kulit, daunnya dijadikan sebagai pakan ternak dan sumber tanin, buahnya dijadikan sebagai tepung bahan dasar makanan. Untuk tanaman jenis pidada dapat diolah menjadi sirup, selai pidada dan dodol pidada. Bahkan saat buahnya masih muda juga bisa dijadikan campuran bahan rujak buah. Sungguh menarik sekali, banyak manfaat yang dihasilkan dari tanaman mangrove ini. Ini merupakan salah satu kearifan tradisional masyarakat sekitar ekosistem mangrove yang memanfaatkan mangrove sebagai bahan makanan namun tetap menjaga kelestarian ekosistem mangrove itu sendiri. Karena peranan ekosistem mangrove dalam keseimbangan ekosistem pesisir sangat penting. Sehingga selain kawasan ini dijadikan sebagai lingkungan ekowisata, namun kita bisa memanfaatkan buah dan daunnya dengan tetap kita jaga kelestariannya. Untuk menunjang kawasan ini sebagai Pusat Pendidikan lahan basah, sarana dan prasarana juga dilengkapi dengan boardwalk sepanjang 843 meter sebagi arena untuk kita berkeliling melihat pemandangan sekitar kawasan, birdwatching sebagai tempat untuk memantau tempat berkumpulnya burung yang sedang bertengger dan berkicau di pepohonan, plasa, gate atau gapura dan juga pos jaga.
Sungguh pengalaman yang sangat berharga sekali kita dapat mengunjungi Suaka Margasatwa Muara Angke, menkmati keindahan alam serta mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tanpa mengeluarkan biaya tiket masuk. Hanya dengan mengurus ijin SIMAKSI yang dikeluarkan Balai KSDA kita sudah dapat mengunjungi kawasan Muara Angke ini. Kawasan ini terbuka untuk semua kalangan, baik pelajar dari PAUD sampai perguruan tinggi dan juga untuk masyarakat umum. Namun setelah kita menikmati kunjungan disana, jangan lupa untuk berkontribusi untuk ikut menanam pohon sebagai bentuk partisipasi kita terhadap kelestarian lingkungan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan berpartisipasi untuk tetap menjaga kelestariannya ???
Semoga bermanfaat....


Nilai: 90
BalasHapusBagus dan lengkap laporannya, mudah-mudahan apa yang kamu dengar dan lihat disana bisa menambah wawasan dan kepedulian kita untuk lebih cinta akan lingkungan sekitar kita..."Keep Green Jakarta"